Berbagi Pengetahuan

Blog ini dibuat sebagai kliping media.

Semoga bermanfaat

Minggu, 06 Januari 2013

Rakyat, Ideologi Ratu Adil, dan Penguasa



Pada November 1885 para pemilik tanah yang berjumlah kira-kira 100 orang di Desa Patik,Kawedanan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Karesidenan Madiun mengangkat carik desa mereka sebagai ratu baru dengan gelar Pangeran Lelono yang akan menghapuskan pajakpajak.

Selain itu, gerakan itu juga bertujuan untuk membunuh para pejabat Belanda setempat sebab mereka membebani rakyat dengan pajak tinggi yang merusak “wong cilik” yang tidak mampu lagi membeli celana karena uangnya habis untuk membayar pajak. Pemberontakan ini dapat dipadamkan dalam satu hari tanpa meminta korban manusia. Hanya rumah kontrolir Belanda di Pulung dirusak.

Kisah mengenaskan ini dikutip dari catatan sejarah dalam esai ilmiah ”Penelitian Sumber-Sumber Gerakan Mesianis” yang ditulis sejarawan Onghokham dalam bukunya, Rakyat dan Negara, yang diterbitkan oleh LP#ES dan Penerbit Sinar Harapan,1983. Menurut Onghokham, ini suatu pemberontakan pajak, tetapi para pejabat pemerintah Belanda yang meneliti persoalan ini mengabaikannya. Hanya suatu kebetulan bahwa perkara pajak itu terbongkar.

Ternyata ada bukti, sejak 1883 pajak di Desa Patik setiap tahun naik dan untuk 1886 akan menjadi lebih tinggi lagi. Seorang carik desa dinobatkan oleh sekitar seratus orang menjadi raja? Logika apa yang membuat penguasa, yang sudah beberapa abad bercokol di tanah ini, untuk percaya akan kesungguhan—dan mungkin bahaya—yang bisa mengancam kekuasaan mereka? Carik itu “wong cilik” yang wawasan politik dan pengetahuannya mengenai “tata pemerintahan” sangatlah terbatas yaitu hanya menyangkut pemerintahan desa.

Adapun seratus orang yang mengangkatnya menjadi raja tadi hendaklah kita pahami dalam konteks keterbatasan pula. Mereka memang serius menjeritkan derita yang lama menimpa dan mungkin tak tertanggungkan lagi, karena bahkan sekadar untuk membeli celana pun mereka sudah tak mampu.

Kalau kita mengatakan gerakan ini hanya sebuah lelucon— apalagi kita beri “cap” sebagai kekonyolan, niscaya kita menghina dan menyakiti hati para petani yang seratus orang jumlahnya itu, yang merasa sangat bersungguhsungguh bermaksud menuntut keadilan dan memperjuangkan kepentingan politik mereka.

Apa yang tampak sederhana, sangat seadanya, dan tanpa kecanggihan sama sekali itu pun sudah “perjuangan”. Kita harus memandangnya sebagai suatu nilai tersendiri. Bahkan Pak Carik yang mungkin “terlongo-longo”, penuh kebingungan—atau keheranan— sesudah dilantik,tapi niat di dalam hatinya juga untuk melakukan suatu gerakan perlawanan. Petani, sebodoh apa pun mereka, tidak pernah bodoh menghadapi dan menilai rasa lapar yang mereka derita.

Dalam kebodohan, mereka tidak bodoh memahami tekanan pajak yang berat sebagai ancaman kehidupan mereka secara langsung. Carik desa itu, seterbatas apa pun wawasan tata pemerintahannya, perasaannya tidak pernah bodoh karena beban pajak itu bukan perkara teori yang ruwet,melainkan kenyataan praktis, tekanan hidup yang dirasakan dan diderita secara langsung. Dia juga penderita.

Beban berat yang mereka pikul itu nyata.Kewajiban itu nyata. Duit yang dipakai untuk membayar pajak pun duit sebenarnya, yang sangat susah diperoleh. Tak diperlukan bantuan orang pandai untuk memahami bahwa tekanan pajak itu sebuah derita. Para pejabat Belanda, yang tak memiliki empati pada kehidupan petani,tidak mau percaya bahwa hal itu serius. Seorang pejabat Belanda melaporkan kejadian ini ke Batavia.

“Para pemberontak itu mengatakan bahwa pajak-pajak tinggilah yang menyebabkan mereka melakukan gerakan. Ini tidak benar. Ini hanya tipu akal mereka,”kata pejabat Belanda tersebut, sebagaimana ditulis sejarawan Ong. Laporan Residen Madiun meneguhkan hal itu: “Bila isu pajak adalah sebab pemberontakan, maka kekuasaan kita (Belanda) berdiri di atas dasar-dasar yang lemah dan kita akan terserang berkali-kali oleh kejadiankejadian yang sama.”

Begitu catatan Onghokham lebih lanjut. Pejabat di tingkat lebih rendah, demi mengamankan jabatannya, menjilat pejabat yang lebih tinggi sudah merupakan kelaziman sejak dulu. Di lapangan ditemukan bahwa seorang pemberontak itu priyayi keturunan keluarga bekas bupati Ponorogo.Priyayi itu membujuk agar carik desa tadi bersedia menjadi Ratu Adil.Karisma priyayi itu memperkuat takhayul penduduk.

Singkatnya, takhayul dan loyalitas buta penduduk dijadikan dasar untuk menilai pemberontakan di Patik tersebut. Belanda memiliki banyak dalih untuk tidak percaya bahwa gerakan itu dilakukan karena beban pajak. Kepentingan politik mereka harus tidak percaya. Lagi pula, bagi mereka, gerakan Ratu Adil hanya dianggap sebagai persoalan keamanan dan diserahkan pada polisi.

Para pejabat, kata Onghokham, tidak mampu menangkap gejala bahwa di balik gerakan seperti itu ada persoalan penting di dalam hubungan antara pemerintah kolonial dan rakyat. Benturan kepentingan nyata antara pemerintah dan rakyat tak diakui sebagai perkara serius oleh para pejabat pemerintah. Mereka bersikukuh untuk menganggap segala sesuatu sudah pada tempatnya. Intinya,mereka tak mau kalah.

Sekali lagi, ideologi Ratu Adil,yang berkembang di kalangan rakyat,dan berbagai corak gerakan perlawanan yang tak terencana baik,tak memiliki kepemimpinan yang kuat dan jelas, selalu membuat gerakan mereka kandas.Dengan begitu, sampai zaman modern ini ideologi Ratu Adil, Satrio Piningit, dan gagasan-gagasan yang datang dari masa lalu yang moralistik sifatnya memang mengetuk kuat kesadaran moral kita.T

etapi,menghadapi politik penguasa, yang dalam banyak hal tak ada beda antara penguasa kolonial dan penguasa kita di zaman merdeka, moral tidak cukup untuk dijadikan kekuatan perlawanan. Penguasa memegang duit, dan bila duit tak ada, bisa memakai duit rakyat yang disimpan di Bank Indonesia untuk semua kepentingannya, sedangkan rakyat hanya punya hati dan punya kata-kata.

Kejujuran itu bahasa moral yang paling kuat,tetapi di dalam politik kejujuran sering lumpuh karena yang berkuasa bisa menciptakan kebohongan canggih, seolah menjadi bukti kebenaran. Kebohongan, dalam relasi rakyat dan penguasa, memenangkan semua jenis pertarungan.

Rakyat, ideologi Ratu Adil, dan kejujuran harus dijejerkan sebagai kekuatan politik yang canggih, yang bisa membikin penguasa terlongo-longo, dan baru sadar, tetapi sudah terlambat bahwa rakyat bermain cantik dan canggih dalam bahasa dunia yang tak percaya pada kejujuran. MOHAMAD SOBARY Esais, Anggota Pengurus Masyarakat Bangga Produk Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi, dan Promosi. Penggemar Sirih dan Cengkih, buat Kesehatan. Email: dandanggula@hotmail.com 
http://www.seputar-indonesia.com/news/rakyat-ideologi-ratu-adil-dan-penguasa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar